Selasa, 29 Maret 2016

Unlimited Wealth


Sebagai seorang Abdi Negara, tentu saja saya harus tunduk dan patuh pada peraturan dan perintah Negara. Salah satu aturan dan perintah itu, adalah membuat laporan harta kekayaan. Abdi Negara pantang berbuat korupsi, mungkin begitu maksudnya. Sebuah maksud yang rasional dan mulia. Maka, saya pun berusaha segera membuat laporan itu dengan sebaik-baiknya.

Namun rupanya, membuat laporan kekayaan itu susahnya bukan kepalang. Bukan karena tidak ada kekayaan yang bisa saya laporkan, tapi justru karena ternyata kekayaan saya yang banyaknya luar biasa. Jika saya sebutkan semua item-nya, maka berapapun kolom yang disediakan dalam form isian tidak akan muat. Pun juga, saya kesulitan untuk menaksir berapa rupiah kekayaan saya yang sebagian besar tidak berupa uang itu.

Gaji rutin bulanan saya yang masuk di rekening bank, biasanya habis untuk membiayai kebutuhan operasional di bulan itu juga. Untuk membiayai kebutuhan non-operasional, saya bisa menggunakan penghasilan dari sumber lain, sebagai bisnis owner di bidang penerbitan buku. Sisa dari keuntungan bisnis itu, saya bisa menyebutkan berapa rupiah kekayaan saya. Saya juga bisa menaksir berapa harga properti saya yang berupa rumah. Itu semua bisa saya laporkan. Tapi, apa hanya itu kekayaan saya? Tentu saja jauh lebih banyak kekayaan yang belum saya sebutkan.

Saya harus juga mengakui kekayaan-kekayaan saya yang tidak berupa uang dan properti. Allah SWT mengalirkan Kasih dan Sayang-Nya tanpa henti kepada saya berupa: kesehatan, kenyamanan, kedamaian, cinta, pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, anak-anak yang menyejukkan, istri yang baik, orang tua yang hebat, saudara yang kuat, pertemanan yang luas, kesempatan, penghormatan, dan berbagai bentuk lainnya. Saya tidak tahu, berapa rupiah harga itu semua. Yang saya tahu, uang tidak bisa membayarnya. Jika saya mendefinisikan kekayaan adalah uang dan properti, maka maaf, saya tidak bisa mengisi laporan kekayaan untuk negara, karena gaji bulanan saya biasanya sudah habis pada bulan itu juga. Begitu juga dengan rumah saya, maaf, belum lunas cicilannya. Tapi jika saya melaporkan kekayaan saya dalam bentuk lain, mungkin saya akan ditertawakan oleh orang Se-Indonesia. Aih! []

Sahabat Pembelajar! Sebagian orang masih mengira bahwa kekayaan itu hanya berupa uang dan properti. Mereka mendefinisikan miskin itu adalah kalau tidak memiliki keduanya. Padahal, Kasih dan Sayang Allah SWT itu ragam bentuknya tak terhingga. Bukankah mimpi punya uang 1 Miliar, bermobil bagus, dan tinggal di rumah mewah itu tidak akan terasa enak, jika tidak bersama keluarga yang harmonis, jika tidak dengan perasaan yang damai, jika tidak bisa berbagi dan peduli pada banyak orang, dan jika tidak berhubungan dekat dengan Yang Maha Agung. Semoga kita semua, digolongkan oleh Allah SWT, dalam kelompok orang-orang yang pandai bersyukur, karena bersyukur adalah cara berdoa yang paling hebat.
Ok! Saya Budi Manfaat,
Salam Sukses Sejati!

SuperMan Vs SuperTeam


Pada tahun 2010, saya mendirikan sebuah perusahaan di bidang penerbitan buku dengan nama “eduvision”. Saat itu, ketika saya menyebut kata “perusahaan”, banyak orang mengira bahwa saya punya banyak karyawan. Sangat lumrah mereka mengira begitu, karena proses penerbitan buku memang terbilang panjang dan memerlukan banyak keahlian, seperti halnya perusahaan jenis lainnya. Padahal saat itu, semua pekerjaan saya laukan sendiri. Saya sendiri yang menulis naskahnya, mengeditnya, melayoutnya, mendisain covernya, mengurus ISBN-nya, mencari percetakannya (milik orang lain), mengontrol proses cetaknya, memantau pengiriman barang dari percetakan ke gudang, membuat materi iklannya, memasarkannya, merespon dan melayani pembeli, membungkus paket pesanan, membawanya ke jasa pengiriman paket, bertemu langsung dengan pelanggan, dan seterusnya. Semuanya saya lakukan sendiri. Padahal, saya adalah juga sebagai seorang Abdi Negara yang harus berkarya dan melayani masyarakat dengan baik, saya juga mewajibkan diri untuk bisa berbagi pada banyak orang dalam event-event seminar, talkshow, training, dan coaching. Saat itu, saya adalah SuperMan. Tak perlu dibayangkan bagaimana capeknya menjadi SuperMan.

Tapi, pilihan itu harus bersifat sementara saja. Saya tidak ingin berlama-lama menjadi superMan. Alasan paling utama kenapa sementara saya melakukannya sendiri saat itu adalah karena saya belum bisa menggaji karyawan. Bahkan, jangankan menggaji karyawan, untuk biaya cetak buku saja saya harus dengan mengirit pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Beberapa tahun saya menjalani itu. Banyak pengalaman saya dapatkan, baik dari cerita suka maupun cerita dukanya. Saya harus bisa menemukan pelajaran baik dari setiap proses pengalaman. Bukankah “pengalaman adalah guru tak bersepatu”? Aha!

Saya percaya bahwa buku adalah masa depan. Masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh buku-buku yang biasa dibacanya. Banyak orang dengan latar belakang biasa-biasa saja kemudian bisa bangkit dan melompat dahsyat setelah membaca buku. Itu sebabnya, saya memilih usaha bidang penerbitan buku. Saya memimpikan, suatu saat penerbit saya ini menjadi besar, menyebarkan buku-buku posiitif yang menginspirasi anak-anak Indonesia untuk menjadi orang baik yang berilmu. Dan, impian itu dari hari ke hari semakin nyata wujudnya. Jika mulanya eduvision hanya menerbitkan buku-buku yang saya tulis sendiri, sekarang telah banyak buku-buku terbaik yang ditulis oleh orang lain dari beragam kalangan. Semkin banyak pembaca yang memberikan respon positif atas hadirnya buku-buku yang diterbitkan.
Sekarang, saya bukan SuperMan lagi, tapi SuperTeam. Banyak sahabat yang tertarik untuk bergabung dengan usaha ini, baik sebagai penulis, tenaga produksi, hingga pemasarannya. Saya meyakini, bahwa semakin banyak orang lain yang bisa terlibat maka semakin mudah saya menemukan titik-titik kebahagiaan. Saya juga percaya, bahwa sehebat-hebatnya SuperMan, pasti kalah oleh SuperTeam.
Ok! Saya Budi Manfaat,
Salam Sukses Sejati!

Memperbaiki Hubungan


Ibnu Sina, atau yang oleh orang Barat dikenal dengan nama Avicenna, dalam salahsatu karya bukunya yang fenomenal Al-Qanun Fitt-Tibb, memaparkan teori besarnya yang mewarnai dunia kedokteran hingga kini, bahwa segala penyakit yang diderita manusia adalah disebabkan oleh tiga hal, yaitu: buruknya hubungan manusia tersebut dengan Sang Penciptanya, buruknya hubungan manusia tersebut dengan sesama manusia, dan buruknya hubungan manusia tersebut dengan alam lingkungan sekitarnya.

Dewasa ini, tak sulit menemukan anak muda yang mengekspresikan kegalauannya. Kita sering menjumpainya di sosial media, mungkin sahabat kita, mungkin keluarga kita, atau bahkan mungkin juga “pemuda galau” itu adalah kita sendiri. Ya! Sesekali galau memang manusiawi, suatu hal yang lumrah diekspresikan oleh manusia. Tapi jika galau sudah menjadi TREND? Sedikit-sedikit galau, sedikit-sedikit galau, Jikalau Gus Dur masih hidup, beliau mungkin akan bilang: “Galau Kok Sedikit”. Padahal, penyakit yang menyerang fisik tubuh manusia banyak dipicu oleh pikiran kacau dan perasaan galau yang berakumulasi.

Sahabat Pembelajar! Tentunya kita tidak akan mudah galau, jika kita telah memilih sudut pandang terbaik dalam melihat dan menyikapi realitas, jika kita telah yakin bahwa apa pun yang terjadi adalah atas izin-NYA, jika kita telah tulus menerimanya, dan jika kita senantiasa bersyukur atas segala apa yang dianugerahkan kepada kita. Berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, berserah diri, dan memanjatkan doa-doa terbaik, adalah bagian dari cara hidup sehat dan berkualitas.

Begitu juga, tentunya kita akan semakin tenang, jika kita hidup bersama orang-orang yang mencintai kita, keluarga yang baik, rekan kerja yang baik, dan komunitas masyarakat yang baik. Betapa enak dan berharganya hidup satu atap dengan orang-orang positif. Dan ini hanya akan terjadi jika kita mengijinkan dan mengupayakan diri kita untuk memancarkan kebaikan pada sesama.

Demikian pula, betapa damainya hidup dalam alam lingkungan yang seimbang. Airnya yang bersih untuk kita minum, udaranya yang segar untuk kita hirup, sayuran hijau, hewan-hewan ternak, dan tanaman pangan untuk kita makan, juga pemandangan alamnya yang memesona. Semuanya terjadi hanya jika kita merawat dan mengelolanya dengan baik.
Tapi memang kini kita telah menyaksikan dan merasakan kehidupan yang tidak seimbang. Generasi kita cenderung semakin menjauhkan diri dengan Sang Penciptanya. Hubungan antar manusia mulai terkalahkan oleh kecanduan teknologi. Begitu juga alam lingkungan semakin menunjukkan ketidakramahannya. Tak ada jalan lain untuk bisa tetap hidup sehat dan berkualitas, selain memperbaiki hubungan yang telah rusak itu. []
Saya, Budi Manfaat.
|salam sukses sejati!

Inspirasi Sepiring nasi


Tersebutlah seorang Bos besar yang membawahi puluhan karyawan di kantornya. Hampir setiap hari kerja, ada saja kesalahan karyawan yang berhasil dilihatnya. Dan kalau sudah begitu, tak segan-segan Si Bos melempar makianhabis-habisan di depan para karyawannya yang lain. “Kalo sudah bosan kerja, besok boleh tidak datang ke kantor!”, kalimat itu yang biasa dilempar tanpa rasa berdosa. Karyawan mana yang tak sakit mendengarnya.

Suatu ketika, salah seorang karyawannya ingin mendekati Si Bos, bermaksud memberikan nasihat agar Si Bos berubah menjadi lebih baik. Berbagai cara dipikirkan untuk mendekati Si Bos, namun hampir semua cara tak mungkin dilakukakknya. Hingga akhirnya tibalah kesempatan yang tak terduga. Si Bos mengajak seorang karyawannya itu untuk menemaninya makan berdua di sebuah restauran mewah. Di sela-sela makan berdua, Si Bos diam-diam memperhatikan cara makan karyawannya itu. Sementara Si Karyawan sangat asyik melahap sepiring nasi dengan lauk dan sayur yang dipesankan.

Singkat cerita, kemudian Si Bos tak bisa menahan rasa gatal di dadanya karena ingin menertawakan karyawannya itu. “Maaf Bos, kenapa tertawa?”, tanya Si Karyawan heran. “Kamu pasti belum terbiasa makan mewah di restauran ya?”, jawab Si Bos. “Dari mana Bos tahu?”, lanjut Si Karyawan semakin keheranan. “Coba lihat piring kamu! Sangat bersih tak bersisa bahkan sebutir nasi pun. Kamu tahu? Mereka yang sedang makan di sini juga pasti akan tertawa jika melihatnya. Coba lihat makanan mereka! Hampir semuanya hanya menyantap sebagian nasi dan lauk yang disajikan di piringnya. Andai pun mereka sedang lapar, mereka juga pasti tidak akan melakukan seperti kamu”.

Dengan tenang Si Karyawan kemudian menjelaskan, “Bos, saya menghabiskannya tak bersisa, karena saat saya disuguhi sepering nasi ini, saya melihat begitu banyak orang yang ada di balik sepering nasi ini. Saya membayangkan orang yang memasaknya, saya bayangkan siapa orang yang belanja ke pasar, pedagang yang menjualnya, pengepulnya, kuli angkutnya, petaninya yang berpanas-panasan di sawah, pembajak lahannya, karyawan pabrik pupuknya, penjemur padinya, tukang selepnya. Saya tidak bisa bayangkan demikian banyak orang-orang yang berjuang untuk menyiapkan sepiring nasi yang saya makan. Kalau kemudian saya menyia-nyiakannya, saya takut kuwalat, Bos!”

Mendengar cerita karyawannya itu, Si Bos tak bisa menyembunyikan basah di matanya. Sejenak Si Bos termenung dan perlahan melepas gelar Bos-nya, hingga akhirnya merasa sejajar derajatnya dengan Si Karyawannya yang selama ini direndahkan itu. Si Bos merangkulnya dengan tulus dan berkata, “Maafkan aku. Selama ini aku mengira bahwa kesuksesan di kantorku adalah karena hebatnya kegigihanku. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana seandainya kamu, dan juga para karyawan yang lain, tidak berjuang untuk kantorku, bagaimana jika mereka semua meninggalkanku sendirian?” []

Sahabat Pembelajar. Cerita ini sengaja saya hadirkan untuk mengawali buku ini. Coba kita pikirkan! Kita sudah berusia dengan fisik se-gede ini, begitu banyak yang telah kita makan dan minum, begitu banyak orang berjuang menyiapkannya untuk pertumbuhan fisik kita. Begitu juga, kita telah se-dewasa ini, dengan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kepribadian yang membaik, demikian banyak orang yang berperan dalam perkembangan hidup kita. Adakah orang yang bisa tumbuh dan berkembang sendirian? Rasanya tak seorang pun. Maka pantaskah kita menyia-nyiakan orang lain? Tidakkah kita kemudian mengijinkan diri untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama?
Saya, Budi Manfaat.
|salam sukses sejati! :-)

Memilih Sudut Pandang Terbaik


Ini adalah kisah tentang bocah 12 tahun pengais koran bekas, Salman namanya. Setiap pagi ia harus berkeliling kompleks perumahan mewah, berharap ada koran bekas yang diberikan cuma-cuma oleh pemilik rumah. Dan jika telah terkumpul, segera ia menuju stasiun kereta untuk menjajakan korannya itu pada para penumpang di gerbong kereta ekonomi untuk alas duduk atau tiduran. Begitu yang dilakukannya setiap hari untuk bisa bertahan hidup. Jika nasib sedang baik, ia bisa beli makan dan minum sesuai keinginan dari hasil jualan koran bekasnya. Selainnya, ia terpaksa makan dari hasil mengais makanan sisa para penumpang di gerbong kereta. Dalam perjuangan hidupnya yang keras itu, masih tersisa mimpi terbaiknya, suatu saat ia ingin menjadi seorang dokter. Maklumlah, kedua orangtuanya meninggal dengan sebab yang sama: tak mampu berobat saat sakit keras melanda.

Orang lain boleh saja menertawakan mimpinya itu, dan mengatakan bagaimana mungkin bocah yang sehari-hari untuk makan saja susah bisa sekolah. Tapi bagi Salman, “saya masih punya banyak kesempatan”, itu yang sering ia ucapkan, meskipun ucapan itu hanya didengarnya sendiri. Ya! Untuk sementara ia hanya bisa belajar dari bacaan koran bekasnya yang belum terjual. Dari situlah sedikit demi sedikit pengetahuaanya bertambah dan semangatnya tergugah.
Hingga suatu ketika, saat berkeliling kompleks dengan sepeda mini-nya, salah seorang pemilik rumah teriak memanggil, “Nak! Kemari!!” Mendengar itu tentu saja Salman senang bukan kepalang. Segera Salman menghampiri sang pemilki rumah. “Ada koran untuk saya, Bu?”, tanya Salman tanpa basa-basi seperti biasanya. “Iya, saya punya banyak koran bekas, tapi bukan hanya itu, saya ingin ngobrol sebentar”, kata sang pemilik rumah.

Singkat cerita, ternyata sang pemilik rumah itu bermaksud untuk meminta Salman agar mau tinggal di rumahnya, menemani Faris, anak satu-satunya yang kebetulan usianya sebaya dengan Salman. “Beberapa bulan ini anak saya tidak mau berangkat ke sekolah. Ibu ingin kamu bisa menjadi semangat untuknya”, terangnya. Mendengar tawaran itu, tentu saja Salman tak perlu berpikir panjang. “Tapi Bu, saya bukan anak sekolahan, saya sudah putus sekolah sejak kelas 5 SD, bagaimana saya bisa menyemangati anak ibu sekolah?”
“Begini saja, Nak. Bagaimana kalau kamu juga ikut sekolah? Ibu akan membiayai semuanya, dan tidak hanya itu, ibu juga akan menganggapmu seperti anak sendiri. Ibu melihat kamu anak yang baik dan penuh semangat, dan semoga nanti Faris juga bisa seperti kamu”.

Beberapa tahun kemudian, dua anak itu kemudian menjadi seperti saudara. Sang Ibu juga hampir tak bisa membedakan lagi mana anak kandung dan mana anak angkatnya. Keduanya sudah biasa saling belajar. Hingga akhirnya, keduanya sudah sama-sama duduk di bangku perguruan tinggi, Faris menekuni bidang Informatika, dan Salman mendalami bidang kedokteran, persis seperti yang diimpikannya sejak kecil. []

Sahabat Pembelajar, Tak begitu penting dari mana kita berasal, yang terpenting adalah ke mana kita akan menuju, begitu kata salah seorang ahli hikmah. Di mana kita dilahirkan, dari keluarga seperti apa, dengan kondisi yang bagaimana, adalah hal yang tidak begitu penting. Kita tidak bisa memilih dalam hal itu. Itu adalah sesuatu yang “given”, alias sudah dari sononya. Sama sekali tak perlu dipersoalkan, karena hakikatnya kita bisa memulai hidup kita dari mana saja.
Yang terpenting, adalah bagaimana kita selanjutnya akan menuju. Kita diberikan pilihan seluas-luasnya oleh Sang Pencipta, untuk menjadi apa saja yang kita impikan. Pastilah mustahil Sang Maha Kuasa membatasi mimpi-mimpi terbaik hambanya. Bagaimana mungkin kita dibiarkan mampu meng-imajinasikan sesuatu tanpa diberikan kemampuan untuk meraihnya. Sungguh mimpi kita tak pernah dibatasi oleh keadaan fisik, usia, ras, ekonomi, pendidikan formal, dan seterusnya. Seringkali yang menjadi batasannya adalah pikiran dan keyakinan kita sendiri.

Sebagian orang mengira bahwa hidupnya berdiri di atas realitas. Sebagiannya lagi berkeyakinan bahwa hidupnya berdiri di atas sudut pandangnya terhadap realitas. Saya sangat tertarik dengan golongan yang kedua. Jika realitasnya adalah miskin, maka kita sesungguhnya tidak hidup di atas kemiskinan. Tapi kita hidup di atas sudut pandang kita terhadap kemiskinan. Apakah kita berpandangan bahwa kemiskinan itu keterbatasan untuk berbuat sesuatu, ataukah kita berpandangan bahwa kemiskinan itu kesempatan untuk mewajibkan diri berbuat sesuatu. Sampai di sini, kita akan semakin menyadari dan mengakui betapa maha adilnya Sang Pencipta. Karena realitas yang berbeda semisal kaya-miskin, sempurna-tuna, dan anugerah-musibah, bisa menimbulkan ‘rasa’ dan ‘implikasi’ yang sama-sama baik dengan cara menyesuaikan sudut pandang yang terbaik.
|salam sukses sejati! :-)

Blind Spot



Saat ajang kontes dangdut, sebut saja D-Academy, sedang ramai-ramainya, tak sedikit pemirsa yang mempertanyakan mengapa SJ bisa duduksebagai juri (komentator). Ada pantasnya juga mereka begitu, mungkin karena suara SJ yang "serak-serak khas" dianggap jelek, sehingga dinilai tak pantas jika harus mengomentari suara kontestan yang relatif lebih merdu. Dengan kata lain, jika boleh diadu bernyanyi antara SJ dan kontestan yang dikomentarinya, mereka menganggap bahwa SJ tidak lebih bagus.
Tapi, apa iya begitu? Apa iya bahwa menjadi juri kontes nyanyi harus lebih bagus bernyanyinya dibanding semua kontestan? Mengapa kenyataannya SJ tetap diperlukan dan dipertahankan keberadaannya sebagai juri?
Sahabat pembelajar! Kenyataannya semua orang butuh pelatih atau pembimbing. Sehebat-hebatnya petinju pasti punya pelatih, dan pelatihnya belum tentu menang (bahkan bisa dipastikan kalah) jika diadu. Sehebat-hebatnya penulis dia memerlukan orang lain untuk mengomentari tulisannya, padahal belum tentu yang memberikan komentar dapat menulis lebih baik. Begitu juga pelatih sepak bola, pembimbing penelitian, pembimbing spiritual, dan pelatih atau pembimbing lainnya. Mereka tidak harus lebih hebat dari yang dilatih/dibimbing. Mereka diperlukan bukan untuk melihat semua titik pada diri yang dilatih atau yang dibimbing. Mereka diperlukan adalah terutama untuk melihat SATU TITIK yang tidak mampu dilihat sendiri oleh yang dilatih atau yang dibimbing. Titik itulah yang disebut dengan "titik buta" (blind spot).
Itulah sebabnya, mengapa SJ tetap diperlukan, mengapa pelatih sepak bola tetap diperlukan, pembimbing penelitian tetap diperlukan, dan juru parkir mobil juga tetap diperlukan karena tidak semua titik dapat terlihat dari kaca spion. Dan, SETIAP ORANG PUNYA TITIK BUTA.
Saya Budi Manfaat,salam sukses sejati! :-)