Selasa, 29 Maret 2016

Blind Spot



Saat ajang kontes dangdut, sebut saja D-Academy, sedang ramai-ramainya, tak sedikit pemirsa yang mempertanyakan mengapa SJ bisa duduksebagai juri (komentator). Ada pantasnya juga mereka begitu, mungkin karena suara SJ yang "serak-serak khas" dianggap jelek, sehingga dinilai tak pantas jika harus mengomentari suara kontestan yang relatif lebih merdu. Dengan kata lain, jika boleh diadu bernyanyi antara SJ dan kontestan yang dikomentarinya, mereka menganggap bahwa SJ tidak lebih bagus.
Tapi, apa iya begitu? Apa iya bahwa menjadi juri kontes nyanyi harus lebih bagus bernyanyinya dibanding semua kontestan? Mengapa kenyataannya SJ tetap diperlukan dan dipertahankan keberadaannya sebagai juri?
Sahabat pembelajar! Kenyataannya semua orang butuh pelatih atau pembimbing. Sehebat-hebatnya petinju pasti punya pelatih, dan pelatihnya belum tentu menang (bahkan bisa dipastikan kalah) jika diadu. Sehebat-hebatnya penulis dia memerlukan orang lain untuk mengomentari tulisannya, padahal belum tentu yang memberikan komentar dapat menulis lebih baik. Begitu juga pelatih sepak bola, pembimbing penelitian, pembimbing spiritual, dan pelatih atau pembimbing lainnya. Mereka tidak harus lebih hebat dari yang dilatih/dibimbing. Mereka diperlukan bukan untuk melihat semua titik pada diri yang dilatih atau yang dibimbing. Mereka diperlukan adalah terutama untuk melihat SATU TITIK yang tidak mampu dilihat sendiri oleh yang dilatih atau yang dibimbing. Titik itulah yang disebut dengan "titik buta" (blind spot).
Itulah sebabnya, mengapa SJ tetap diperlukan, mengapa pelatih sepak bola tetap diperlukan, pembimbing penelitian tetap diperlukan, dan juru parkir mobil juga tetap diperlukan karena tidak semua titik dapat terlihat dari kaca spion. Dan, SETIAP ORANG PUNYA TITIK BUTA.
Saya Budi Manfaat,salam sukses sejati! :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar