Selasa, 29 Maret 2016

SuperMan Vs SuperTeam


Pada tahun 2010, saya mendirikan sebuah perusahaan di bidang penerbitan buku dengan nama “eduvision”. Saat itu, ketika saya menyebut kata “perusahaan”, banyak orang mengira bahwa saya punya banyak karyawan. Sangat lumrah mereka mengira begitu, karena proses penerbitan buku memang terbilang panjang dan memerlukan banyak keahlian, seperti halnya perusahaan jenis lainnya. Padahal saat itu, semua pekerjaan saya laukan sendiri. Saya sendiri yang menulis naskahnya, mengeditnya, melayoutnya, mendisain covernya, mengurus ISBN-nya, mencari percetakannya (milik orang lain), mengontrol proses cetaknya, memantau pengiriman barang dari percetakan ke gudang, membuat materi iklannya, memasarkannya, merespon dan melayani pembeli, membungkus paket pesanan, membawanya ke jasa pengiriman paket, bertemu langsung dengan pelanggan, dan seterusnya. Semuanya saya lakukan sendiri. Padahal, saya adalah juga sebagai seorang Abdi Negara yang harus berkarya dan melayani masyarakat dengan baik, saya juga mewajibkan diri untuk bisa berbagi pada banyak orang dalam event-event seminar, talkshow, training, dan coaching. Saat itu, saya adalah SuperMan. Tak perlu dibayangkan bagaimana capeknya menjadi SuperMan.

Tapi, pilihan itu harus bersifat sementara saja. Saya tidak ingin berlama-lama menjadi superMan. Alasan paling utama kenapa sementara saya melakukannya sendiri saat itu adalah karena saya belum bisa menggaji karyawan. Bahkan, jangankan menggaji karyawan, untuk biaya cetak buku saja saya harus dengan mengirit pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Beberapa tahun saya menjalani itu. Banyak pengalaman saya dapatkan, baik dari cerita suka maupun cerita dukanya. Saya harus bisa menemukan pelajaran baik dari setiap proses pengalaman. Bukankah “pengalaman adalah guru tak bersepatu”? Aha!

Saya percaya bahwa buku adalah masa depan. Masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh buku-buku yang biasa dibacanya. Banyak orang dengan latar belakang biasa-biasa saja kemudian bisa bangkit dan melompat dahsyat setelah membaca buku. Itu sebabnya, saya memilih usaha bidang penerbitan buku. Saya memimpikan, suatu saat penerbit saya ini menjadi besar, menyebarkan buku-buku posiitif yang menginspirasi anak-anak Indonesia untuk menjadi orang baik yang berilmu. Dan, impian itu dari hari ke hari semakin nyata wujudnya. Jika mulanya eduvision hanya menerbitkan buku-buku yang saya tulis sendiri, sekarang telah banyak buku-buku terbaik yang ditulis oleh orang lain dari beragam kalangan. Semkin banyak pembaca yang memberikan respon positif atas hadirnya buku-buku yang diterbitkan.
Sekarang, saya bukan SuperMan lagi, tapi SuperTeam. Banyak sahabat yang tertarik untuk bergabung dengan usaha ini, baik sebagai penulis, tenaga produksi, hingga pemasarannya. Saya meyakini, bahwa semakin banyak orang lain yang bisa terlibat maka semakin mudah saya menemukan titik-titik kebahagiaan. Saya juga percaya, bahwa sehebat-hebatnya SuperMan, pasti kalah oleh SuperTeam.
Ok! Saya Budi Manfaat,
Salam Sukses Sejati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar