Selasa, 29 Maret 2016

Inspirasi Sepiring nasi


Tersebutlah seorang Bos besar yang membawahi puluhan karyawan di kantornya. Hampir setiap hari kerja, ada saja kesalahan karyawan yang berhasil dilihatnya. Dan kalau sudah begitu, tak segan-segan Si Bos melempar makianhabis-habisan di depan para karyawannya yang lain. “Kalo sudah bosan kerja, besok boleh tidak datang ke kantor!”, kalimat itu yang biasa dilempar tanpa rasa berdosa. Karyawan mana yang tak sakit mendengarnya.

Suatu ketika, salah seorang karyawannya ingin mendekati Si Bos, bermaksud memberikan nasihat agar Si Bos berubah menjadi lebih baik. Berbagai cara dipikirkan untuk mendekati Si Bos, namun hampir semua cara tak mungkin dilakukakknya. Hingga akhirnya tibalah kesempatan yang tak terduga. Si Bos mengajak seorang karyawannya itu untuk menemaninya makan berdua di sebuah restauran mewah. Di sela-sela makan berdua, Si Bos diam-diam memperhatikan cara makan karyawannya itu. Sementara Si Karyawan sangat asyik melahap sepiring nasi dengan lauk dan sayur yang dipesankan.

Singkat cerita, kemudian Si Bos tak bisa menahan rasa gatal di dadanya karena ingin menertawakan karyawannya itu. “Maaf Bos, kenapa tertawa?”, tanya Si Karyawan heran. “Kamu pasti belum terbiasa makan mewah di restauran ya?”, jawab Si Bos. “Dari mana Bos tahu?”, lanjut Si Karyawan semakin keheranan. “Coba lihat piring kamu! Sangat bersih tak bersisa bahkan sebutir nasi pun. Kamu tahu? Mereka yang sedang makan di sini juga pasti akan tertawa jika melihatnya. Coba lihat makanan mereka! Hampir semuanya hanya menyantap sebagian nasi dan lauk yang disajikan di piringnya. Andai pun mereka sedang lapar, mereka juga pasti tidak akan melakukan seperti kamu”.

Dengan tenang Si Karyawan kemudian menjelaskan, “Bos, saya menghabiskannya tak bersisa, karena saat saya disuguhi sepering nasi ini, saya melihat begitu banyak orang yang ada di balik sepering nasi ini. Saya membayangkan orang yang memasaknya, saya bayangkan siapa orang yang belanja ke pasar, pedagang yang menjualnya, pengepulnya, kuli angkutnya, petaninya yang berpanas-panasan di sawah, pembajak lahannya, karyawan pabrik pupuknya, penjemur padinya, tukang selepnya. Saya tidak bisa bayangkan demikian banyak orang-orang yang berjuang untuk menyiapkan sepiring nasi yang saya makan. Kalau kemudian saya menyia-nyiakannya, saya takut kuwalat, Bos!”

Mendengar cerita karyawannya itu, Si Bos tak bisa menyembunyikan basah di matanya. Sejenak Si Bos termenung dan perlahan melepas gelar Bos-nya, hingga akhirnya merasa sejajar derajatnya dengan Si Karyawannya yang selama ini direndahkan itu. Si Bos merangkulnya dengan tulus dan berkata, “Maafkan aku. Selama ini aku mengira bahwa kesuksesan di kantorku adalah karena hebatnya kegigihanku. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana seandainya kamu, dan juga para karyawan yang lain, tidak berjuang untuk kantorku, bagaimana jika mereka semua meninggalkanku sendirian?” []

Sahabat Pembelajar. Cerita ini sengaja saya hadirkan untuk mengawali buku ini. Coba kita pikirkan! Kita sudah berusia dengan fisik se-gede ini, begitu banyak yang telah kita makan dan minum, begitu banyak orang berjuang menyiapkannya untuk pertumbuhan fisik kita. Begitu juga, kita telah se-dewasa ini, dengan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kepribadian yang membaik, demikian banyak orang yang berperan dalam perkembangan hidup kita. Adakah orang yang bisa tumbuh dan berkembang sendirian? Rasanya tak seorang pun. Maka pantaskah kita menyia-nyiakan orang lain? Tidakkah kita kemudian mengijinkan diri untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama?
Saya, Budi Manfaat.
|salam sukses sejati! :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar