Ini adalah kisah tentang bocah 12 tahun pengais koran bekas, Salman namanya. Setiap pagi ia harus berkeliling kompleks perumahan mewah, berharap ada koran bekas yang diberikan cuma-cuma oleh pemilik rumah. Dan jika telah terkumpul, segera ia menuju stasiun kereta untuk menjajakan korannya itu pada para penumpang di gerbong kereta ekonomi untuk alas duduk atau tiduran. Begitu yang dilakukannya setiap hari untuk bisa bertahan hidup. Jika nasib sedang baik, ia bisa beli makan dan minum sesuai keinginan dari hasil jualan koran bekasnya. Selainnya, ia terpaksa makan dari hasil mengais makanan sisa para penumpang di gerbong kereta. Dalam perjuangan hidupnya yang keras itu, masih tersisa mimpi terbaiknya, suatu saat ia ingin menjadi seorang dokter. Maklumlah, kedua orangtuanya meninggal dengan sebab yang sama: tak mampu berobat saat sakit keras melanda.
Orang lain boleh saja menertawakan mimpinya itu, dan mengatakan bagaimana mungkin bocah yang sehari-hari untuk makan saja susah bisa sekolah. Tapi bagi Salman, “saya masih punya banyak kesempatan”, itu yang sering ia ucapkan, meskipun ucapan itu hanya didengarnya sendiri. Ya! Untuk sementara ia hanya bisa belajar dari bacaan koran bekasnya yang belum terjual. Dari situlah sedikit demi sedikit pengetahuaanya bertambah dan semangatnya tergugah.
Hingga suatu ketika, saat berkeliling kompleks dengan sepeda mini-nya, salah seorang pemilik rumah teriak memanggil, “Nak! Kemari!!” Mendengar itu tentu saja Salman senang bukan kepalang. Segera Salman menghampiri sang pemilki rumah. “Ada koran untuk saya, Bu?”, tanya Salman tanpa basa-basi seperti biasanya. “Iya, saya punya banyak koran bekas, tapi bukan hanya itu, saya ingin ngobrol sebentar”, kata sang pemilik rumah.
Singkat cerita, ternyata sang pemilik rumah itu bermaksud untuk meminta Salman agar mau tinggal di rumahnya, menemani Faris, anak satu-satunya yang kebetulan usianya sebaya dengan Salman. “Beberapa bulan ini anak saya tidak mau berangkat ke sekolah. Ibu ingin kamu bisa menjadi semangat untuknya”, terangnya. Mendengar tawaran itu, tentu saja Salman tak perlu berpikir panjang. “Tapi Bu, saya bukan anak sekolahan, saya sudah putus sekolah sejak kelas 5 SD, bagaimana saya bisa menyemangati anak ibu sekolah?”
“Begini saja, Nak. Bagaimana kalau kamu juga ikut sekolah? Ibu akan membiayai semuanya, dan tidak hanya itu, ibu juga akan menganggapmu seperti anak sendiri. Ibu melihat kamu anak yang baik dan penuh semangat, dan semoga nanti Faris juga bisa seperti kamu”.
Beberapa tahun kemudian, dua anak itu kemudian menjadi seperti saudara. Sang Ibu juga hampir tak bisa membedakan lagi mana anak kandung dan mana anak angkatnya. Keduanya sudah biasa saling belajar. Hingga akhirnya, keduanya sudah sama-sama duduk di bangku perguruan tinggi, Faris menekuni bidang Informatika, dan Salman mendalami bidang kedokteran, persis seperti yang diimpikannya sejak kecil. []
Sahabat Pembelajar, Tak begitu penting dari mana kita berasal, yang terpenting adalah ke mana kita akan menuju, begitu kata salah seorang ahli hikmah. Di mana kita dilahirkan, dari keluarga seperti apa, dengan kondisi yang bagaimana, adalah hal yang tidak begitu penting. Kita tidak bisa memilih dalam hal itu. Itu adalah sesuatu yang “given”, alias sudah dari sononya. Sama sekali tak perlu dipersoalkan, karena hakikatnya kita bisa memulai hidup kita dari mana saja.
Yang terpenting, adalah bagaimana kita selanjutnya akan menuju. Kita diberikan pilihan seluas-luasnya oleh Sang Pencipta, untuk menjadi apa saja yang kita impikan. Pastilah mustahil Sang Maha Kuasa membatasi mimpi-mimpi terbaik hambanya. Bagaimana mungkin kita dibiarkan mampu meng-imajinasikan sesuatu tanpa diberikan kemampuan untuk meraihnya. Sungguh mimpi kita tak pernah dibatasi oleh keadaan fisik, usia, ras, ekonomi, pendidikan formal, dan seterusnya. Seringkali yang menjadi batasannya adalah pikiran dan keyakinan kita sendiri.
Sebagian orang mengira bahwa hidupnya berdiri di atas realitas. Sebagiannya lagi berkeyakinan bahwa hidupnya berdiri di atas sudut pandangnya terhadap realitas. Saya sangat tertarik dengan golongan yang kedua. Jika realitasnya adalah miskin, maka kita sesungguhnya tidak hidup di atas kemiskinan. Tapi kita hidup di atas sudut pandang kita terhadap kemiskinan. Apakah kita berpandangan bahwa kemiskinan itu keterbatasan untuk berbuat sesuatu, ataukah kita berpandangan bahwa kemiskinan itu kesempatan untuk mewajibkan diri berbuat sesuatu. Sampai di sini, kita akan semakin menyadari dan mengakui betapa maha adilnya Sang Pencipta. Karena realitas yang berbeda semisal kaya-miskin, sempurna-tuna, dan anugerah-musibah, bisa menimbulkan ‘rasa’ dan ‘implikasi’ yang sama-sama baik dengan cara menyesuaikan sudut pandang yang terbaik.
|salam sukses sejati! :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar