Sebagai seorang Abdi Negara, tentu saja saya harus tunduk dan patuh pada peraturan dan perintah Negara. Salah satu aturan dan perintah itu, adalah membuat laporan harta kekayaan. Abdi Negara pantang berbuat korupsi, mungkin begitu maksudnya. Sebuah maksud yang rasional dan mulia. Maka, saya pun berusaha segera membuat laporan itu dengan sebaik-baiknya.
Namun rupanya, membuat laporan kekayaan itu susahnya bukan kepalang. Bukan karena tidak ada kekayaan yang bisa saya laporkan, tapi justru karena ternyata kekayaan saya yang banyaknya luar biasa. Jika saya sebutkan semua item-nya, maka berapapun kolom yang disediakan dalam form isian tidak akan muat. Pun juga, saya kesulitan untuk menaksir berapa rupiah kekayaan saya yang sebagian besar tidak berupa uang itu.
Gaji rutin bulanan saya yang masuk di rekening bank, biasanya habis untuk membiayai kebutuhan operasional di bulan itu juga. Untuk membiayai kebutuhan non-operasional, saya bisa menggunakan penghasilan dari sumber lain, sebagai bisnis owner di bidang penerbitan buku. Sisa dari keuntungan bisnis itu, saya bisa menyebutkan berapa rupiah kekayaan saya. Saya juga bisa menaksir berapa harga properti saya yang berupa rumah. Itu semua bisa saya laporkan. Tapi, apa hanya itu kekayaan saya? Tentu saja jauh lebih banyak kekayaan yang belum saya sebutkan.
Saya harus juga mengakui kekayaan-kekayaan saya yang tidak berupa uang dan properti. Allah SWT mengalirkan Kasih dan Sayang-Nya tanpa henti kepada saya berupa: kesehatan, kenyamanan, kedamaian, cinta, pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, anak-anak yang menyejukkan, istri yang baik, orang tua yang hebat, saudara yang kuat, pertemanan yang luas, kesempatan, penghormatan, dan berbagai bentuk lainnya. Saya tidak tahu, berapa rupiah harga itu semua. Yang saya tahu, uang tidak bisa membayarnya. Jika saya mendefinisikan kekayaan adalah uang dan properti, maka maaf, saya tidak bisa mengisi laporan kekayaan untuk negara, karena gaji bulanan saya biasanya sudah habis pada bulan itu juga. Begitu juga dengan rumah saya, maaf, belum lunas cicilannya. Tapi jika saya melaporkan kekayaan saya dalam bentuk lain, mungkin saya akan ditertawakan oleh orang Se-Indonesia. Aih! []
Sahabat Pembelajar! Sebagian orang masih mengira bahwa kekayaan itu hanya berupa uang dan properti. Mereka mendefinisikan miskin itu adalah kalau tidak memiliki keduanya. Padahal, Kasih dan Sayang Allah SWT itu ragam bentuknya tak terhingga. Bukankah mimpi punya uang 1 Miliar, bermobil bagus, dan tinggal di rumah mewah itu tidak akan terasa enak, jika tidak bersama keluarga yang harmonis, jika tidak dengan perasaan yang damai, jika tidak bisa berbagi dan peduli pada banyak orang, dan jika tidak berhubungan dekat dengan Yang Maha Agung. Semoga kita semua, digolongkan oleh Allah SWT, dalam kelompok orang-orang yang pandai bersyukur, karena bersyukur adalah cara berdoa yang paling hebat.
Ok! Saya Budi Manfaat,
Salam Sukses Sejati!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar